Skripsi Saia : The Comparative Analysis of Purchasing Intention Levels through Internet Media (Online Shopping) Based on Types of Consumers’ Lifestyle
ABSTARCT
Elfina xxxxxx, 110xxxxxx, The Comparative Analysis of Purchasing Intention Levels through Internet Media (Online Shopping) Based on Types of Consumers’ Lifestyle, Thesis, Faculty of Psychology of
xxi+109 pages, 7 appendices
This study aims to investigate the difference of consumers’ intention to do online shopping in relation to their lifestyle, as well as to know the lifestyle characteristic of potential consumers in an online sales system. The concept of lifestyle used in this research is based on the theory of Activities, Interest and Opinion (AIO inventory), while Fishbein and Ajzen Theory of Planned Behavior is employed to measure the purchasing intention level among consumers.
The participants in this research are internet users who have access to internet minimum 3 times or 10 hours per week. With accidental sampling methods, 100 people are collected through a lifestyle questionnaire (consists of 48 items) and purchasing intention questionnaire (consists 0f 36 items). Data are then analysis using a set of statistical procedures, including factor analysis, cluster analysis, ANOVA test and cross tabulation (Crosstabs).
The result categories4 types of lifestyle, namely, ordinary minded, fashionable minded, social minded, and working minded. The ANOVA test result F calculated of 2.954 and F table of 2.699 for 5% of significant level (F calculated > F table). This score indicate that there are differences in consumers’ intention in doing online shopping in relation to their lifestyle. In more specific, people under the cluster of fashionable minded are likely to do more online shopping than other clusters.
Keywords : Consumer Lifestyle, Purchasing Intention, AIO Inventory, Theory of Planned Behavior, Online Shopping.
Bibliography, 37 (1989-2009)
-------
Sedikit ringkasan mengenai hasil penelitian saia untuk memenuhi syarat kelulusan...dan akhirnya...Alhamdullillah lulus juga...
Kalo ada yang berminat untuk bertanya, diskusi, bertukar pikiran mengenai topik penelitian saia *karena penelitian saia juga masih banayk kekurangan...bisa hubungi via email di felinophobia@gmail.com
Selasa, November 03, 2009 | Label: Graduation, Jejak Final Projectku, Kuliah, Saia, Task of Psychology | 1 Comments
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Definisi:
Gangguan Stress Pasca Trauma (Post Traumatic Stress Disorder) adalah reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. Pengalaman traumatis ini merupakan pengalaman luar biasa yang mencekam, mengerikan, dan mengancam jiwa seseorang, seperti peperangan, korban perkosaan, keorban kecelakaan hebat dan orang-orang yang telah menjadi saksi dari hancurnya rumah-rumah dan lingkungan hidup mereka oleh bencana alam, atau oleh bencana teknologis seperti tabrakan kereta api atau kecelakaan pesawat, dsb.
Gangguan Stress Pasca Trauma ini kemungkinan berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa dekade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis. Individu akan didiagnosa mengalami PTSD bila setelah periode yang cukup panjang, ia tak mampu kembali ke fungsinya yang semula, dan terus dicekam oleh pengalaman-pengalaman mengganggu
Kerentanan terjadinta Post Traumatic Stress Disorder pada individu sangat tergantung pada beberapa faktor seperti resiliensi dan kerentanan terhadap efek trauma, riwayat penganiayaan seksual masa anak-anak, keparahan trauma, derajat pemaparan, ketersediaan dukungan sosial, penggunaan respon coping aktif dalam menghadapi stresor traumatis, dan perasaan malu. Dalam kaitannya dengan gender, perempuan lebih banyak mengembangkan PTSD sebagai respon terhadap trauma meskipun pria juga sering dihadapkan pada pengalaman traumatis. 
Symptom:
Symtomps yang muncul pada Post Traumatic Stress disorder meliputi:
1.Ingatan atau bayangan mencengkeram tentang trauma, atau merasa seperti kejadian terjadi kembali ("Flashbacks")
2.Respon-respon fisik seperti dada berdebar, munculnya keringat dingin, lemas tubuh atau sesak nafas saat teringat atau berada dalam situasi yang mengingatkan pada kejadian
3.Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
4.Mudah terbangkitkan ingatannya bila ada stimulus atau rangsang yang berasosiasi dengan trauma (lokasi, kemiripan fisik atau suasana, suara dan bau, dan sebagainya).
Pada beberapa orang dapat terjadi:
1.Mimpi buruk, gangguan tidur
2.Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan
3.Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
4.Kesulitan mengendalikan emosi atau perasaan, misalnya menjadi sensitif, cepat marah, tidak sabar
5.Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.
Barangkali intensitasnya saja yang berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain: ada yang menjadi waspada dan takut sangat berlebihan, sehingga bahkan keluar rumah pun tidak bersedia, ada pula yang meski cemas tetap dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Ada yang mampu cepat keluar dari trauma, ada pula yang memerlukan waktu lebih lama.
Symtomps PTSD berdasarkan PPDGJ III sebagai berikut:
Diagnosis baru bisa ditegakkan apabila gangguan stres pasca trauma ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat. Gejala yang harus muncul sebagai bukti tambahan selain trauma bahwa seseorang telah mengali gangguan ini adalah:
1.individu tersebut mengalami mimpi-mimpi atau bayang-bayang dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kemabali (flashback)
2.Muncul gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku, gejala ini mungkin saja mewarnai hasil diagnosis akan tetapi sifatnya tidak khas.
Etiology:
1.Etiologi Psikoanalisis
Bisa disebabkan pengalaman masa lalu yang tanpa disadari individu telah membuat individu menjadi trauma dan cemas berlebihan. Dengan kata lain, ada konflik – konflik tak sadar yang tetap tinggal tersembunyi dan merembes ke syaraf kesadaran.
2.Etiologi Kognitif
Adanya cara berpikir yang terdistorsi dan disfungsional, bisa meliputi beberapa hal seperti : prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self – defeating atau irasional, sensitiviras berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusikan sinyal – sinyal tubuh,serta self – efficacy yang rendah
3.Etiologi berdasarkan pendekatan behavioral
Etiologi terjadinya PTSD dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan behavioral dengan kerangka pikir conditioning. Dalam perspektif classical Conditioning, pengalaman traumatis berfungsi sebagai stimulus tak terkondisi yang dipasangkan dengan stimulus netral seperti sesuatu yang dilihat, suara, dan bau yang diasosiasikan dengan gambaran trauma. Pemaparan terhadap stimuli yang sama atau hampir sama memunculkan kecemasan yang diasosiasikan dengan PTSD
Terapi:
1.Terapi behavior lewat proses khusus yang melibatkan pengandaian mental dari peristiwa yang memicu traumatik dan disandingkan dengan terapi relaksasi. Dengan teknik ini, penderita akan menanggulangi rasa takutnya pada pemicu trauma.
2.Terapi kognitif untuk menghadapi efek peristiwa penyebab trauma. Terapi dengan cara si penderita bercerita bisa membantu penderita mengurangi kenangan buruk masa silam.
3.Terapi psikodinamik dengan memaparkan kembali penderita terhadap peristiwa traumatik namun dengan lingkungan yang lebih mendukung. Dengan terapi ini, penderita akan memahami perasaan sadar dan tak sadar terhadap peristiwa yang mempengaruhinya tersebut dan belajar menerima kondisi.
4.Terapi medis dengan pemberian obat penenang atau obat anti depresann dapat membantu untuk mengobati gangguan-gangguan kecemasan lainnya. Namun masalah potensial dengan terapi obat adalah bahwa pasien kemungkian menganggap perbaikan klinis yang terajadi disebabkan oleh obat dan bukan karena mereka sendiri. Obat tidak mampe memberikan efek kesembuhan secara total karena terapi obat hanya mengobati gejal bukan inti dari masalah trauma itu sendiri.
5.Untuk mengatasi PTSD, kata Tjhin dalam harian republika tertanggal 6 Februari, metode prolonged exposure therapy adalah salah satu metode perawatan psikoterapi yang dapat membantu pasien menghadapi situasi yang ditakuti secara aman dan sistematis. Dalam terapi ini, lanjut dia, pasien akan diarahkan untuk menceritakan peristiwa traumatik yang dialaminya. Pasien juga diarahkan untuk mengenali bagian-bagian paling menakutkan dalam peristiwa itu. `'Tujuannya, untuk melatih otak agar otak tidak sensitif lagi pada peristiwa tersebut,'' jelas Tjhin. Melalui terapi ini pasien akan diarahkan untuk mendukung, memperkuat, dan memperbarui mekanisme adaptasi. `'Psikiater akan membantu untuk meredakan perasaan bersalah, marah, sedih, depresi, cemas, dan mengurangi problem mental yang ada,'' cetusnya. Selain itu, lanjut Tjhin, upaya lain adalah menghindarkan pasien dari pikiran-pikiran, perasaan, orang, tempat, atau apa pun yang dapat membangkitkan ingatan akan peristiwa traumatik yang pernah dialami.
6.Ahli juga bersepakat, penderita trauma juga sebaiknya menghindari makanan/minuman pemicu PTSD seperti kafein (kopi, coklat, teh hitam, dan kola) dan alkohol.
7.Mempertahankan kadar gula darah untuk menyeimbangkan mood.
8.Banyak menkonsumsi buah, sayuran, dan protein dari sayuran seperti kacang-kacangan, serta ikan.
Pendapat lain mengenai cara menghilangkan atau terapi pada klien dengan PTSD adalah sebagai berikut:
1.Mengenali dulu apa yang menjadi penyebab gangguan itu, sebab tidak sama dalam setiap kasus.
2.Kembali lagi pada peristiwa saat itu, dan mengeluarkan emosi yang seharusnya dia keluarkan saat itu. Tentunya dengan bantuan seorang ahli terapi dia mengunjungi kembali saat itu dan mengeluarkan perasaannya yaitu perasaan takut, marah, diekspresikan semua.
3.Setelah itu baru masuk ke yang disebut di dalam ilmu terapi ke arah yang bersifat kognitif. Yaitu penyembuhan kognitif artinya dia akan diajar atau mulai belajar melihat hidup ini atau situasi ini dengan kaca mata yang berbeda. 
Orang yang mengalami gangguan stres pasca trauma ini biasanya menempatkan dirinya sebagai orang yang tak berdaya, nah ini yang perlu disampaikan kepada mereka "TIDAK!" engkau sekarang berdaya, engkau tidaklah setidak berdaya pada waktu engkau masih kecil. Jadi harus dilawan dan diberikan prespektif yang lebih luas.
Selasa, Oktober 27, 2009 | Label: Info, Kuliah, Phobia, Sok Tau, Task of Psychology | 0 Comments
Obsessive Compulsive Disorder ( OCD )
merupakan kelanjutan dari postingan mengenai General Anxiety Disorder...maka Obsessive Compulsive Disorder juga masih berada pada kategori anxiety disorder. Adapun penjelasan yang didapat semasa kuliah Psikologi Abnormal adalah sebagai berikut...
Definisi
Obsesi adalah pikiran, impuls,dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan sendirinya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak selalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. Secara klinis, obsesi yang paling banyak terjadi berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi , ketakutan mengekspresikan impuls seksual atau agresif, dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh (Jenike, Baer,&Minichiello,1986). Obsesi juga dapat berupa keragu-raguan ekstrem, prokrastinasi, dan ketidaktegasan.
Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental repetitif yang mana seseorang merasa didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana. Aktivitas tersebut tidak berhubungan secara realistis dengan tujuan yang ada atau jelas berlebihan. Frekuensi pengulangan suatu tindakan, fisik atau mental, dapat luar biasa tinggi. Kompulsi sering dianggap oleh pelaku sebagai sesuatu yang tidak berasal dari dirinya (ego distonik). Stern dan Cobb (1978) menemukan bahwa 78% dari sampel individu kompulsif memandang ritual mereka sebagai “cukup bodoh atau aneh” walaupun mereka tidak mampu menghentikannya.
Jadi, gangguan obsesif kompulsi merupakan suatu gangguan anxietas di mana pikiran dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan individu dipaksa untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan mengganggu keberfungsian sehari-hari.
Symptom :
Berdasarkan PPDGJ-III :
Gejala primer kecemasan harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut atau merupakan sumber distres atau gangguan aktivitas. Gejala-gejala tersebut meliputi :
1.Harus dikenal atau disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri individu sendiri.
2.Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
3.Pikiran untuk melaksanakan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan tidak dianggap sebagai kesenangan sepert dimaksud diatas).
4.Pikiran, bayangan atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan.
Etiologi
1. Teori Psikoanalisis
Dalam teori psikoanalisis,obsesi kompulsi dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan.
Alfred Adler memandang gangguan obsesif kompulsif sebagai akibat dari rasa tidak kompeten. Dia percaya bahwa ketika anak-anak tidak didorong untuk mengembangkan suatu perasaan kompeten oleh orang tua yang sangat memanjakan atau sangat dominan, mereka mengalami kompleks inferioritas dan secara tidak sadar dapat melakukan ritual kompulsif untuk menciptakan suatu wilayah dimana mereka dapat menggunakan kendali dan merasa terampil. Adler berpendapat bahwa tindakan kompulsif memungkinkan seseorang sangat terampil dalam suatu hal, bahkan jika suatu hal itu hanya berupa posisi menulis di meja.
2. Teori behavioral dan kognitif
Teori behavioural menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut (Meyer & Chesser,1970). Sebagai contoh, mencuci tangan secara kompulsif dipandang sebagai respon pelarian operant yang mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh kotoran dan kuman. Sejalan dengan itu, pengecekan secara kompulsif dapat mengurangi kecemasan terhadap bencana yang diantisipasi pasien jika ritual pengecekan tersebut tidak dilakukan.
Pemikiran lain mengenai pengecekan secara kompulsif adalah bahwa hal itu disebabkan oleh defisit memori. Ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan secara akurat (seperti mematikan kompor) atau membedakan antara perilaku aktual dan perilaku yang dibayangkan (“Mungkin saya hanya berpikir telah mematikan kompor”) dapat menyebabkan seseorang berulang kali melakukan pengecekan. Namun demikian, sebagian besar studi menemukan bahwa penderita OCD tidak menunjukkan defisit memori. Sebagai contoh, salah satu studi membandingkan pasien penderita OCD, gangguan panik, dan orang-orang normal pada tes mengenai informasi umum. Tidak ada perbedaan diantara ketiga kelompok dalam jumlah jawaban benar. Namun demikian, para pasien penderita OCD kurang yakin dengan jawaban mereka dibanding kelompok normal (Dar dkk.,2000). Dengan demikian, bila memori relevan dengan OCD, tampaknya hanya merupakan masalah keyakinan terhadap memori seseorang dan bukan memori itu sendiri.
Penjelasan kognitif mengenai OCD sama dengan penjelasan Adler. Dihipotesiskan bahwa OCD (sekurang-kurangnya perilaku kompulsif) didorong oleh kebutuhan yang tidak masuk akal untuk merasa kompeten, bahkan sempurna. Jika tidak demikian, orang yang bersangkutan merasa tidak berharga (McFall & Wollersheim, 1979). Teori kognitif yang lain menekankan pada asumsi-asumsi yang mendasari, misalnya keyakinan bahwa orang harus mampu mencegah bahaya bagi orang lain dan bahwa orang harus mampu mengendalikan pikiran-pikirannya (Salkovskis,1985)
3. Faktor Biologis
Encefalitis, cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan dengan terjadinya gangguan obsesif-kompulsif (Jenike,1986). Ketertarikan difokuskan pada dua area otak yang dapat terpengaruh oleh trauma semacam itu, yaitu lobus frontalis dan ganglia basalis, serangkaian nuklei sub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus pallidus, dan amygdala. Studi pemindaian dengan PET menunjukkan peningkatan aktivasi pada lobus frontalis pasien OCD, mungkin mencerminkan kekhawatiran mereka yang berlebihan terhadap pikiran mereka sendiri. Untuk memberikan bukti yang mendukung pentingnya dua bagian otak yang telah disebutkan sebelumnya, Rauch dkk.(1994) menstimulasi simtom-simtom OCD dengan memberikan stimuli yang dipilih secara khusus pada para pasien, seperti sarung tangan kotor oleh sampah atau pintu tidak terkunci. Aliran darah di otak meningkat pada daerah frontalis dan beberapa daaerah ganglia basalis. Para pasien penderita OCD juga ditemukan memiliki putamen yang lebih kecil dibanding kelompok kontrol. (Rosenberg dkk,1997)..jpg)
Terapi Gangguan Obsesif-Kompulsif
Gangguan Obsesif kompulsif merupakah salah satu masalah psikologis yang paling sulit ditangani. Para pasien OCD jarang memperoleh kesembuhan. Walau berbagai macam intervensi dapat mengakibatkan perbaikan signifikan, kecenderungan obsesif kompulsif tetap ada hingga suatu titik tertentu, walaupun dalam kontrol yang lebih besar dan dengan penampakan yang lebih sedikit dalam gaya hidup pasien (White & Cole,1990). Berikut adalah beberapa jenis terapi yang digunakan :
1.Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis untuk obsesif kompulsif mirip dengan fobia dan kecemasan menyeluruh, yaitu mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang menggangu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan, serta, keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik, dan prosedur psikoanalisis serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan ini (Esman,1989). Salah satu pandangan psikoanalisis mengemukakan hipotesis bahwa keragu-raguan yang tampak pada sebagian besar penderita obsesif-kompulsif berasal dari kebutuhan terhadap kepastian benarnya suatu tindakan sebelum tindakan tersebut dilakukan (Salzman,1985). Dengan demikian, pasien harus belajar untuk mentoleransi ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang seiring mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti atau dapat dikendalikan secara mutlak dalam hidup ini. Fokus akhir dalam terapi tetap berupa insight atas berbagai penyebab simtom yang tidak disadari.
2.Pendekatan Behavioral: Pemaparan dan Pencegahan Ritual (ERP-Exposure and Ritual prevention)
Pendekatan behavioral yang paling banyak digunakan,dinilai cukup efektif bagi lebih dari separuh pasien penderita OCD dan diterima secara umum untuk ritual kompulsif, dalam metode ini (kadang disebut flooding) seseorang memaparkan dirinya pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif, kemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukannya. Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negatif karena mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa dalam lingkungan. Mencegah seseorang melakukan ritual akan memaparkannya pada stimulus yang menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan terhapusnya kecemasan tersebut. Kadangkala pemaparan dan pencegahan ritual ini dilakukan melalui imajinasi, terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya, bila seseorang percaya bahwa ia akan sakit parah apabila tidak melakukan ritual tertentu.
3.Terapi Perilaku Rasional Emotif
Beberapa bukti mendukung efektivitas terapi perilaku rasional emotif untuk mengurangi OCD (a.l., Emmelkamp & Beens,1991). Pemikirannya adalah membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala tindakan yang mereka lakukan harus mutlak memberikan hasil sempurna. Terapi kognitif dari beck dapat bermanfaat (Van Oppen dkk.,1995). Dalam pendekatan ini, pasien didorong untuk menguji ketakutan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif. Jelaslah, bagian ini tidak terpisahkan dalam terapi kognitif semacam itu adalah pemaparan dan pencegahan respon (atau ritual), karena untuk mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan memberikan konsekuensi yang mengerikan, pasien harus menahan diri untuk tidak melakukan ritual tersebut
4.Penanganan Biologis
Obat-obatan yang menigkatkan level serotonin, seperti SSRI dan beberpa tricyclic, merupakan penangan biologis yang paling sering diberikan kepada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Kedua kelompok obat-obatan tersebut telah memberikan hasil yang menguntungkan, walaupun perlu dicatat bahwa suatu kajian terhadap penanganan farmakologis oleh dua psikiater merendahkan pentingnya ERP sebagai pendekatan baris pertama (Rauch&Jenike,1998) . Beberapa studi menunjukkan bahwa antidepresan trycilic kurang efektif dibandingkan ERP (balkom dkk.,1994), dan suatu studi terhadap antidepresan menunjukkan perbaikan ritual kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita depresi (Marks dkk.,1980). Dalam studi lain, manfaat antidepresan trycilic bagi OCD ternyata hanya berjangka pendek;penghentian obat ini memicu 90 persen tingkat kekambuhan, jauh lebih tinggi daripada pencegahan respon (pato dkk.,1988). Diatas segalanya gambaran mengenai efektivitas antidepresan trycilic tidak pasti. Penelitian menunjukkan bahwa penghambat pengembalian serotonin, seperti fluoxetin (Prozac), menghasilkan perbaikan lebih besar bagi pasiien OCD dibanding placebo atau trycilic (Kronig dkk.,1999). Tetapi ternyata simtom-simtom akan terjadi kembali jika pemakaian dihentikan.
Peningkatan teknologi dalam pengukuran berbagai aspek aktivitas otak mendorong para peneliti untuk mencari perubahan otak yang disebabkan oleh intervensi terapeutik. Salah satu studi yang pantas dicatat membandingkan fluoxetine (Prozac) dengan pemaparan nyata plus pencegahan reapon dan menemukan bahwa perbaikan kondisi OCD yang dihasilkan oleh kedua terapu tersebut diasosiasikan dengan perubahan yang sama dalam fungsi otak, yaitu,berkurangnya aktivitas metabolik dalam caudata nucleus kanan, dimana aktivitas yang berlebihan dikaitkan dengan OCD (Baxter dkk.,1992). Hanya pasien yang secara klinis mengalami perbaikan kondisi menunjukkan perubahan aktivitas otak tersebut sebagaimana terukur oleh pemindaian PET. Penemuan semacam itu menunjukkan bahwa berbagai terapi yang benar-benar berbeda dapat berhasil karena alasan yang sama, karena berbagai terapi tersebut menggunakan cara yang berbeda untuk mempengaruhi faktor-faktor yang sama pada otak.
Senin, Oktober 26, 2009 | Label: Info, Kuliah, Sok Tau, Task of Psychology | 4 Comments
General Anxiety Disorder (GAD)
TUGAS MATA KULIAH PSIKOLOGI ABNORMAL
“DEFINISI, SYMTOMPS, ETIOLOGY, TERAPI DARI GAD”
General Anxiety Disorder (GAD)
Definisi :
GAD merupakan salah satu kecemasan yang dikarakteristikkan dengan adanya kecemasan yang tidak terkontrol, irasional, terus-menerus, kuat mengenai hal-hal dalam kehidupan sehari-hari, dimana hal-hal tersebut dicemaskan secara berlebihan atau tidak sewajarnya mencemaskan hal-hal tersebut secara berlebihan. Gangguan ini ditandai dengan kecemasan yang persisten yang tidak dipicu oleh suatu objek, situasi atau aktifitas yang spesifik.
Kecemasan seringkali mengganggu aktifitas kehidupan sehari-hari dan mengganggu fungsi seseorang sebagai seorang individu. Kecemasan tersebut meliputi kecemasan secara berlebihan dan ekstrim mengenai permasalahan tertentu, seperti keuangan, keluarga, permasalahan dan juga pekerjaan. Dan mayoritas penderitanya adalah wanita dan gangguan ini termasuk gangguan yang stabil yang umumnya mucul saat masa remaja dan berlangsung terus sepanjang hidup (Rapee,1998).
GAD sering ada bersamaan (comorbid) dengan gangguan lain, seperti depresi, agoraphobia dan obsesif kompulsif.
Symptom :
Ciri terkait meliputi (APA, 2002) :
1. Perasaan tegang, was-was atau khawatir
2. Mudah lelah
3. Kesulitan dalam berkonsentrasi atau mudah untuk berpikiran kosong
4. Iritabilitas
5. Ketegangan otot
6. Adanya gangguan tidur (sulit tidur atau tidur yang gelisah )
Symtops General Anxety Disorder berdasarkan PPDGJ-III :
Gejala primer kecemasan harus berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan, gejala tersebut meliputi :
1.Kecemasan tentang masa depan (khawatir akan nasib buruk, perasaan gelisah seperti di ujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dll..)
2.Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran dan tidak dapat santai)
3.Overaktivitas otonomik (kepala terasa rungan, berkeringat, takikardi, takikpne, keluhan epigastrik, pusing kepala, mulut kering, dll..)
4.Pada anak-anak : Adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang.
5.Pada beberapa penderita ditemui adanya gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, sulit untuk terus tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak memuaskan.
Etiology
Ada beberapa etiologi dalam terjadinya GAD, yaitu :
1.Etiologi Psikoanalisis
Bisa disebabkan pengalaman masa lalu yang tanpa disadari individu telah membuat individu menjadi trauma dan cemas berlebihan. Dengan kata lain, ada konflik – konflik tak sadar yang tetap tinggal tersembunyi dan merembes ke syaraf kesadaran.
2.Etiologi Kognitif
Adanya cara berpikir yang terdistorsi dan disfungsional, bisa meliputi beberapa hal seperti : prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self – defeating atau irasional, sensitiviras berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusikan sinyal – sinyal tubuh,serta self – efficacy yang rendah.
3.Etiologi Biologis
Faktor genetik (hereditas) berpengaruh dalam perkembangan kecemasan
Terapi
Terapi – terapi yang bisa digunakan dalam menangani GAD, antara lain :
1.Terapi Psikoanalisis
Membantu menemukan sumber konflik dan menyadarkan bahwa kecemasan klien itu merupakan simbolisasi dari konflik dalam (inner conflict)
2. Terapi Kognitif
Dapat dilakukan melalui cognitive restructuring (restrukturing kognitif). Terapi kognitif ini dapat dikembangkan menjadi terapi kognitif – behavioral dengan cara memadukan teknik – teknik behavioral seperti pemaparan dan teknik – teknik kognitif seperti restrukturing kognitif .
3. Terapi Biologis
Penggunaan obat – obat penenang dosis ringan pada penderita. Salah satu caranya adalah menggunakan SSRI dan obat – obatan tertentu. SSRI adalah kepanjangan dari Selective Serotonin Reuptake Inhibitors yang merupkan antidepresan yang mempengaruhi aktifitas kimiawi otak yang menghambat reabsorbsi serotonin di dalam otak. SSRI yang umumnya diberikan pada penderita GAD adalah : flouxetine (Prozac), paroxetine (Paxil) dan ecitalopram (Lexapro). Sedangkan untuk obat-obatan yang umumnya juga diberikan pada penderita GAD adalah Benzodiazepine yaitu perangsang yang cepat bereaksi, penggunaan obat jenis ini tidaklah dianjurkan untuk penggunaan jangka panjang karena dapat menyebabkan ketergantungan (habit-forming). Benzodiazepine yang umumnya diberikan adalah : alprazolam (Xanax), chlorodiazepoxide ( Libirium).
Isu penting dalam terapi biologis adalah akan adanya kemungkinan kambuh pada ‘gangguan’ yang dialami penderita jika penggunaan obat dihentikan. Dan kalaupun terjadi perbaikan pada penderita, perbaikan itu sifatnya terjadi karena faktor klinis, bukan karena sumber daya penderita sendiri.
Minggu, Oktober 25, 2009 | Label: Info, Kuliah, Sok Tau, Task of Psychology | 0 Comments
Analisis Kasus Disleksia - Reading Disorder
Tugas Mata Kuliah Kesbel (Kesulitan Belanjar) semester 6
Sumber Kasus : Di sini
Sebut saja namanya Denny, bocah berusia delapan tahun. Di sekolah, anak ini tidak hanya lincah, tetapi juga mudah bergaul dengan siapa saja. Namun Denny sering membuat ayah dan ibunya bingung karena tingkah-laku dan cara berpikir yang berbeda. Denny memiliki sikap pelupa, tidak suka membaca, sulit mengeja, dan lemah memahami konsep dalam subjek matematika dan sering tidak memahami apa yang dibacanya.
Orangtua Denny mendapat laporan dari guru bahwa anak itu sulit menghafal abjad, susah menghafal nama hari sesuai urutannya, dan sulit menulis. Abjad ditulisnya tidak sesuai dengan pembentukan benar. Dia juga sering keliru menulif huruf b dan d, p dan q. Huruf z, j, dan g, sering ditulis terbalik. Akhirnya Denny belum dapat membaca dengan lancar, meskipun sudah naik kelas. Tetapi di balik itu, dia fasih berbicara dan sering memberikan ide menarik. Ia lebih senang mendengar cerita yang dibacakan guru, dibanding membaca.
Suatu ketika ketika ditanya kenapa ia tidak mau membaca, Denny mengatakan saat membuka buku ia melihat huruf yang ada di dalamnya campur-aduk, sehingga kata-katanya tidak jelas. Akhirnya diketahui Denny mengalami disleksia.
Belajar dari pengalaman Denny, biasanya sebagian orangtua gemas ketika melihat anaknya lamban, terutama saat membaca dan menulis. Orangtua umumnya langsung mengklaim anaknya memiliki kekurangan inteligensia. Padahal ketika si anak kesulitan dengan kata-kata, baik saat membaca atau menulis, serta menerangkan sesuatu, kemungkinan si anak mengalami disleksia. 
ANALISIS menurut penulis :
Dari kasus yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa Denny mengalami disleksia. Yang unik, sebagian besar penderita disleksia adalah kaum lelaki, seperti Denny. Disleksia merupakan salah satu bentuk dari Learning Disabilities (LD). Disleksia berasal dari bahasa Yunani, ‘‘dys’‘ yang artinya sulit, dan ‘‘lex’‘ yang berarti berbicara.
Disleksia tidak disebabkan oleh kelainan fisik ataupun mental, karena si penderita memiliki kemampuan intelegensi yang normal. Hanya saja, ia memiliki masalah yang berhubungan dengan kata dan simbol tulisan. Sehingga ia terus menerus melakukan kesalahan dalam membaca, menulis, mengeja dan terkadang matematika dan notasi musik. Bentuk klinis disleksia itu bermacam-macam, diantaranya sulit menyebut nama benda yang sangat sederhana, padahal anak itu mengenal betul benda tersebut seperti pensil, buku, sepatu dll. Gangguan lain bisa juga dalam kemampuan menulis huruf, misalnya "p" ditulis "q", atau "d" ditulis "b".
Disleksia tidak sama dengan penyandang cacat mental. Seorang anak yang mengalami disleksia murni, dalam arti mengalami suatu gangguan perkembangan spesifik pada tahap usia tertentu, dengan pertumbuhan otak dan sel otaknya yang sudah mulai sempurna, ia akan dapat mengatasi gangguan disleksianya.
Pada umumnya anak yang mendapat gangguan disleksia mempunyai tingkat intelegensi yang normal, bahkan ada yang mempunyai tingkat intelegensi di atas normal. Jadi jangan menganggap bahwa anak yang menderita gangguan disleksia itu berarti anak yang bodoh atau terbelakang. Yang terpenting ketika ditemukan disleksia pada seorang anak, berilah terapi sedini mungkin yang dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan Khusus utuk penderita disleksia yang disertai gangguan penyerta, dalam proses terapinya ditambah dengan terapi perilaku.
PENANGANAN :
Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam menyikapi anak – anak yang mengalami disleksia. Karena disleksia bukanlah penyakit yang dapat sembuh dengan meminum obat-obatan, melalui metode belajar khusus, dukungan dan kesabaran orang tua maupun para pendidik, anak yang menderita disleksia akan dapat mengatasi kesulitan baca tulisnya sehingga ia lebih percaya diri dan termotivasi baik. Karena itu, orang tua maupun para pendidik sangat berperan dimana keduanya merupakan pihak sangat sering berinteraksi dengan anak – anak yang mengalami disleksia tersebut. Tatalaksana disleksia diarahkan pada kehidupan penderita. Pada anak yang masih kecil tatalaksana diarahkan pada perbaikan. Setelah anak semakin besar maka tatalaksana diarahkan pada proses adaptasi.
a. Orang Tua
Yang harus dilakukan orang tua adalah mengenali gangguan tersebut sejak dini dan membantu anak mengatasi kesulitan baca tulisnya, meskipun sayangnya, tak banyak orang tua yang dapat langsung mendeteksi gangguan disleksia pada anaknya sehingga label malas, susah berkonsentrasi bahkan bodoh diberikan kepada anaknya. Selain itu orang tua dapat memberikan umpan balik berupa reward kepada anaknya apabila anaknya telah mencapai suatu kemajuan dengan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya.
b. Pihak Pendidik
Anak dengan disleksia yang disekolahkan bersama dengan anak-anak normal dapat membuat mereka merasa "bodoh" sebab mereka tidak dapat keluar dari permasalahan itu. Selanjutnya mereka gagal naik kelas, menutup diri dan frustasi. Para pendidik ditekankan untuk mengidentifikasi ketidakmampuan belajar sedini mungkin, sehingga anak dapat diberikan pendidikan alternatif dan dapat menjadi anak yang berprestasi pula disekolahnya. Memang banyak anak-anak dengan disleksia dapat belajar dan diijinkan masuk di kelas reguler, namun mereka haruslah mendapatkan lingkungan yang baik dan mendukung, menyediakan pengajar yang mengerti dan ahli yang dapat memberikan intervensi.
Program intervensi yang diberikan merupakan faktor-faktor penting dalam membaca yaitu mengajarkan anak untuk memanipulasi fonem dengan huruf, memfokuskan instruksi pada satu atau dua jenis manipulasi fonem, pola pengajaran dalam kelompok kecil, dan instruksi yang sistematis dan eksplisit. Intervensi yang efektif akan mengajarkan anak untuk mengerti bagaimana huruf berhubungan dengan suara dari huruf tersebut serta pola mengeja, selain itu mereka harus diberi audiotaping saat belajar atau lembaran text, menggunakan flashcard atau kartu pengingat untuk mampelajari sesuatu yang baru, selalu tempatkan anak tersebut posisi depan bila dikelas sehingga pengajar dapat memantau dengan baik dan menggunakan komputer untuk mengeja dan memeriksa tata bahasanya.
Para penderita disleksia dapat diajarkan untuk mengikuti latihan seperti berdiri di atas papan bergoyang, melempar kantung dan mengayunkan bola selama sepuluh menit dua kali sehari. Kemampuan mereka memang mengalami peningkatan, terutama dalam hal membaca, sains dan matematika, subjek pelajaran yang kerap kurang mampu dipahami penderita disleksia
Jumat, September 11, 2009 | Label: Info, Kuliah, Sok Tau, Task of Psychology | 6 Comments
Kebutuhan Sosial Online
Teori hirarki kebutuhan Maslow yang dicetuskan 64 tahun lalu menyebutkan bahwa manusia memiliki lima kebutuhan bertingkat. Mulai dari kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, serta kebutuhan biologis), keamanan (bebas dari ancaman, penjajahan, teror, dan sejenisnya), sosial (bertemen, berkeluarga, cinta), penghargaan (pujian, penghargaan, tanda jasa) serta aktualisasi diri (bertindak sesuka hati sesuai bakat dan minatnya). Barangsiapa bisa memenuhi lima kebutuhan ini maka akan bisa mendapatkan bisnis yang amat besar.
Nah, di dunia maya, Communispace menemukan enam kebutuhan sosial utama manusia. Barangsiapa bisa memenuhinya di dunia maya, maka akan mendapat efek bisnis yang luar biasa.
Apa itu keenam kebutuhan sosial di dunia maya?
Pertama: Mengekspresikan Identitas Personal.
Jaringan sosial online menyediakan berbagai fasilitas dan alat bagi siapapun yang ingin mencitrakan (atau mencitrakan kembali) dirinya sendiri melalui profil dan interaktivitasnya. Coba perhatikan profil-profil Friendster, Facebook dan sejenisnya. Anda bisa saja tercengang membaca profil teman kita sendiri karena bisa berbeda dengan persespi kita selama ini mengenai teman tersebut.
Kedua: Status dan Penghargaan (self-esteem).
Kebutuhan untuk diakui, dihargai, dipuja, tersalur betul via jaringan sosial online. Friendster bisa menghebat di Indonesia antara lain karena ada fasilitas testimonial, yang isinya biasanya puja puji dari teman-teman terhadap prestasi seseorang. Perhatikan juga, foto-foto yang tampil di jaringan sosial online adalah foto-foto untuk menaikkan status (misalnya sedang jalan-jalan di Eropa, menyelam di pantai paling indah di dunia, atau foto bersama bintang tenar).
Ketiga: Saling Memberi dan Menolong.
Manusia memiliki kebutuhan untuk meminta pertolongan atau memberi pertolongan. Internet mempermudah kebutuhan itu. Bahkan kepada orang yang belum kita kenal pun kita bisa memberikan pertolongan di jaringan sosial online.
Keempat: Berafiliasi dan Saling Memiliki.
Komunitas online menjadi ajang paling mudah untuk menemukan orang-orang “yang seperti kita”, kemudian menjalin komunikasi dan saling terkoneksi satu sama lain untuk saling berbagi informasi mengenai hobi, minat atau kebutuhan yang sejenis. Misalnya, membentuk komunitas sesama Internet marketer, pehobi kendaraan bermotor, dan lain-lain.
Kelima: Rasa Komunitas.
Rasa memiliki saja tidak cukup untuk membangun komunitas. Komunitas akan terbentuk jika ada hubungan timbal balik jangka panjang yang saling menguntungkan. Inilah yang disebut oleh Communispace sebagai Sense of Community atau rasa komunitas.
Sebenarnya, hanya dengan memenuhi kelima kebutuhan sosial online di atas, menurut Communispace, perusahaan akan meraih kepercayaan pelanggannya, sekaligus mendapatkan insight mengenai pelanggan dan anggota komunitas. Consumer insight yang dicari oleh kebanyakan marketer tersedia melimpah di jaringan sosial online.
Dan manakala perusahaan bergerak lebih jauh lagi, dengan mengajak mereka dan memenuhi gagasan-gagasan pelanggannya, menurut Communispace maka seseungguhnya mereka memenuhi kebutuhan keenam jaringan sosial online.
Keenam: Keyakinan terhadap Nilai Diri.
Manusia butuh merasa yakin terhadap nilai dirinya. Mereka berharap apa yang mereka ucapkan dinilai penting oleh yang lain dan berdampak positif ke lingkungan di sekitar mereka.
Sumber : http://www.virtual.co.id/blog/online-behavior/enam-kebutuhan-sosial-online/
Senin, Mei 04, 2009 | Label: Dunia Maya, Info, Kuliah | 3 Comments
Blog Sebagai Media Aktualisasi Diri
Posting kali ini sebenarnya sudah pernah saya muat di blog saya sebelumnya Fish's Brain
, namun karena blog tersebut telah saya tutup untuk umum dengan alasan tertentu, maka topok posting ini saya munculkan kembali dalam blog baru ini, hitung-hitung karena postingan inilah blog saya dulu bisa dapet page rank...ya semoga terjadi ulang pada blog ini... NB: sebenarnya adalah tugas kuliah saya pada mata kuliah Psikologi Humanistik
Perubahan terjadi ketika Aku menjadi diriku sendiri.
Membiarkan Aku jujur mengekspresikan pikiran dan perasaanku.
Semakin dalam Aku merasakannya, semakin cepat hal itu menghilang, sehingga memungkinkan Aku tuk menemukan hal yang positif dalam hidupku.
Setelah Aku melihat dunia dengan cara yang baru dan berbeda,
maka Akupun bisa mengubah aspek luar dari kehidupanku.
Aku juga lebih bergairah untuk meraih tujuan hidupku,
lebih bertanggung jawab dan memandang kegagalan sebagai umpan balik.
Blog merupakan suatu jenis situs web yang memiliki suatu ciri khas tertentu sehingga dapat dibedakan dengan jenis situs web lainnya. Menurut Sheila Ann dalam artikel yang berjudul Components of a Web Log, blog yang dimaksud disini adalah suatu aplikasi web di internet yang dimiliki dan diposting secara periodik oleh seorang individu. Sejarah blog sudah cukup panjang bila disimak dari cepatnya perkembangan teknologi komunikasi yang terus berlari dan sudah banyak blogger (penulis blog) yang piawai di negeri ini. Simak saja nama-nama seperti Enda Nasution, Priyadi atau siapa saja yang pernah dikategorikan dalam Top 100 Blog Indonesia . Namun demikian blogger di Indonesia saat ini sangatlah minim dibandingkan dengan negara-negara lain, hal tersebut lebih dikarenakan sikap bangsa indonesia yang masing cenderung pesimis terhadap internet, sehingga banyak masyarakat yang merasa bahwa apabila mereka berhubungan dengan dunia maya, maka mereka tidak akan memunculkan identitas asli mereka apalagi untuk menuliskan kisah hidup, pengalaman, pengetahuan mereka lewat media blog.
“Blogging is not about technology. It’s about people”
Bagi sebagian orang aktivitas blogging adalah aktivitas sampingan yang hanya memiliki nilai kesenangan semata, namun bagi sebagian yang lain, aktivitas blogging merupakan suatu kebutuhan hidup dalam kesehariannya, entah sebagai pelepasan emosi, penyaluran ide pikiran, pengganti hubungan sosial, pencarian inspirasi individual ataukah sebagai sarana aktualisasi dirinya di dunia maya. Dunia blog memang layaknya seperti dunia nyata yang penuh kompleksitas, sama seperti blogger itu sendiri yang merupakan manusia-manusia kompleks yang unik satu dengan yang lain. Kompleksitas yang diwujudkan dalam jutaan kata dari hasil pikir dan perilaku manusia penulisnya, yang saling berinteraksi satu sama lain berupa komentar, sapaan ataupun komunikasi non verbal lainnya. Apapun definisinya, pendapat-pendapat tersebut bertemu pendapat bahwa blog adalah website yang bersifat personal, memuat opini pesonal dan hal-hal lain yang merupakan aktualisasi diri pembuatnya secara personal yang ingin ia kabarkan pada komunitas global dunia. Meskipun personal, isinya bisa dinikmati siapa saja darimana saja dan kapan saja. Sebuah loncatan ekspresi diri yang telah melampaui batas-batas ruang dan waktu .
Baru-baru ini saya berminat untuk membuat suatu blog , sebenarnya awal ketertarikan pada blog dimulai saat saya masuk pada search engine untuk mencari data keperluan tugas namun saya sempat melihat beberapa blog orang lain, dari situ terlihat bagaimana para blogger dengan bebas menuliskan apa yang ingin mereka ungkapkan, berbagi pengalaman dengan orang lain, menerima komentar kritik dari pembaca, berhubungan dengan orang lain melalui tulisan, membentuk kelompok menurut kesamaan hobi, dan lain sebagainya. Dari sana akhirnya saya mencoba untuk membuat suatu blog, memang belum sehebat blogger-blogger yang pernah saya baca sebelumnya, namun saya sempat belajar dari mereka cara menulis blog yang baik. Menurut saya dengan blog, orang dapat berkreasi dengan dirinya, menumpahkan seluruh perasaan mereka dalam bentuk blue diary , orang juga bisa belajar untuk mengaktualisasikan dirinya. Selain itu setelah beberapa lama menulis dalam blog maka kita akan biasa dalam mengeksperikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain, menemukan minat menulis, lebih menghargai diri sendiri, belajar untuk lebih percaya diri, dan juga blog bisa menjadi terapi jiwa, hal-hal tersebutlah yang nantinya akan mendorong kita untuk mencapai aktulisasi diri. Dengan menulis blog secara periodik dan teratur maka kita akan mengetahui bahwa diri kita sebenarnya unik, lain dari orang lain, kita juga dapat menilai diri kita sendiri, kepribadian kita, dan cara pandang kita terhadap suatu masalah.
Rogers dalam Schultz (1991) menulis tentang Aktualisasi Diri sebagai proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi. Kebutuhan paling tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah Aktualisasi Diri. Jadi prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada dalam tingkat yang lebih rendah. Maslow menggambarakan 5 kebutuhan hidup manusia dalam Hierarchy Needs , antara lain :
1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis : Jenis kebutuhan ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan, seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat.
2. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman : Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Keadaan aman, stabilitas, proteksi, dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya.
3. Kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta : Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.
4. Kebutuhan-kebutuhan penghargaan : Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.
5. Aktualisasi Diri : Kebutuhan terakhir menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri.
Apabila Hierarchy Needs Maslow diatas dikaitkan dengan proses aktualisasi diri, disini hanyalah bentuk proses aktualisasi pada perilaku blogger di dunia maya :
1. Physiological : Kebutuhan utamanya adalah traffic. Dimana awal tujuan seorang blogger adalah hanya untuk membaca tulisannya, melihat tulisan orang lain, mencari hal-hal baru, trial-error. Mencari kelemahan dan keindahan tulisannya sendiri.
2. Safety : Setelah kebutuhan awal terpenuhi, blogger pemula biasanya mereka lebih membutuhkan keamanan karena awalnya mereka menganggap dunia maya (internet) kurang memiliki keamanan yang cukup. Misalnya hosting yang bisa diandalkan, tidak sering down. Blogger di tingkat ini menulis dengan cara aman, biasanya belum berani berpendapat, yang penting dirinya aman dan nyaman.
3. Love/Belonging : Setelah kebutuhan fisik dan rasa aman terpenuhi, blogger mulai butuh pertemanan. Blogger juga akan membentuk kelompok-kelompok. Misalnya yang sehobi travelling, biasanya berkelompok dengan sesama penyuka travelling. Akhirnya akan terbentuk kelompok-kelompok seperti komunitas blogger, perenang, pecinta alam dll. Blogger akan membutuhkan dan masuk ke dalam kelompok dimana mereka merasa diterima dan disayang.
4. Esteem :Disini blogger mulai membutuhkan harga diri. Maslow membagi tingkat ini menjadi dua. Yang pertama adalah ‘ketenaran’, ‘pengakuan’, dan ‘ingin kelihatan hebat’. Yang kedua adalah ‘rasa percaya diri’, ‘kompetensi’ dan ‘pencapaian’.Kebutuhan akan ketenaran, pengakuan dan rasa hebat ini dianggap lebih rendah, karena keberadaannya tergantung pada pengakuan orang. Berada pada tingkat ini, blogger bisa melakukan apa saja demi tujuannya, mulai dari tebar pesona sampai membajak karya orang lain. Sedangkan keberadaan ‘percaya diri’, ‘kompetensi’, dan ‘pencapaian’ tidak memerlukan pihak lain. Blogger di level ini biasanya narsis, percaya diri, dan suka katarsis sendiri. Mereka tidak lagi perduli dengan traffic, tidsa perduli apakah ada yang baca, atau berkomentar, bagi mereka yang penting adalah mengekspresikan dirinya ke dalam wujud tulisan.
5. Self-actualization : Di level ini seorang blogger benar-benar menjadi kreatif, memaksimalkan semua potensi mereka. Punya visi, dan mereka suka mencari solusi dari berbagai masalah, termasuk masalah orang lain. Di level ini blogger blogging bukan hanya sekedar untuk fun, gaul, katarsis, ikut-ikutan. Melalui tulisannya, mereka blogging untuk berbagi kemampuan, memberikan sesuatu yang lebih berguna kepada masyarakat, membuat dunia jadi lebih baik.
“Think of your blog as a version of you online. Your web persona will teach you new things about yourself, connect you to people, and take you to places you never expected to go.”
Selasa, Februari 10, 2009 | Label: Dunia Maya, Kuliah | 6 Comments
KKN-BK Almamater ku..part 1
Kmren hari pertama saia berkunjung ke suatu daerah di ujung Surabaya...tepatnya di Kecamatan Gunung Anyar Kelurahan Gunung Anyar Tambak...Sesuai namanya 'Tambak' pasti sudah bisa ditebak?Jelas bahwa memang daerahnya diliputi tambak disana sini tp untungnya saat itu cuaca mendukung untuk kami segerombolan anggota KKN-BK ANG 39 UNAIR kelayapan guna survei data dan kondisi masyarakat sekitar...
Alhasil setelah kita muter2 kelurahan mulai dari sekolah,panti asuhan,puskesmas,rumah2 warga,posko2 kegiatan warga sampe tanya tukang2 becak sekitar yang notabene juga warga kelurahan didapatlah data mentah yang diharapkan meski belum lengkap benar karena mahasiswa sudah cukup lelah saat itu..bayangkan saja pukul 8 pagi harus kekampus Unair B..kemudian 10 pagi kekampus Unair C yg jaraknya lumayan adoh..kemudian ke TKP ini yg jelas jaraknya huuaaadoooh pol...sehingga tim pencarian data ckup sampai hari ini...
Salah satu hasil survei : ada 9 RW dikelurahan ini,namun ada gab pd beberapa RW sehingga susah jika kami mgadakan acara yang seharusx diikuti seluruh warga karena RW yg gab tersebut tidak mau membaur dg RW lainnya...RW 1-2 adalah warga perkampungan stempat,dan RW 3-9 adalah warga perumahan.Dan kondisi lingkunganx sangat berlainan.
Setelah searching dihentikan,lanjut ke pembagian kerja.Kami disini dibagi menjadi 4 divisi : Pendidikan,Lingkungan,Pemberdayaan Masyarakat,dan Kesehatan. Dan saia nyemplung di divisi Kesehatan,padahal saia kurang paham tentang Kesehatan dan sebagian besar diisi oleh mahasiswa dari fak KesMas,hanya saia seorang dari fak Psi..ya beginilah belajar,saling transfer ilmu dari bidang lain..
Yup..smua slesai hari itu jam 5sore..pulanglah saia dan juga teman lainnya diiringi gerimis hujan,dan angin tambak sepoi sepoi...
Kamis, Januari 15, 2009 | Label: Kuliah, Kuliah Kerja Nyata 'KKN' | 2 Comments
This quiz was provided by Match Special
Free Online Dating
Artikel Top
Facebook Badge
Pengunjung
- Lowongan Kerja Jatim
- Lowongan Kerja Bandung-Solo
- Video Download
- Okezone.com
- Liputan 6 SCTV
- Caddy Golfnya Antasari
- Psikologi Industri
- Online Strategy
- Raditya Dika - Kambing Jantan
- Pak Bondan - Wisata Kuliner
- Dagdigdug
- Gossip Girl
- Christian Sugiono
- Oprah Winfrey
- Raditya Dika
- Jawa Pos
- Magazine
- Download Software Hp
- Download Software
- Multiply
- Download Jurnal 2
- Download Jurnal 1
- Download Songs
- Update Antivirus
- Kampusku
