Obsessive Compulsive Disorder ( OCD )



Share

merupakan kelanjutan dari postingan mengenai General Anxiety Disorder...maka Obsessive Compulsive Disorder juga masih berada pada kategori anxiety disorder. Adapun penjelasan yang didapat semasa kuliah Psikologi Abnormal adalah sebagai berikut...

Definisi
Obsesi adalah pikiran, impuls,dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan sendirinya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak selalu tampak irasional bagi individu yang mengalaminya. Secara klinis, obsesi yang paling banyak terjadi berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi , ketakutan mengekspresikan impuls seksual atau agresif, dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh (Jenike, Baer,&Minichiello,1986). Obsesi juga dapat berupa keragu-raguan ekstrem, prokrastinasi, dan ketidaktegasan.
Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental repetitif yang mana seseorang merasa didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana. Aktivitas tersebut tidak berhubungan secara realistis dengan tujuan yang ada atau jelas berlebihan. Frekuensi pengulangan suatu tindakan, fisik atau mental, dapat luar biasa tinggi. Kompulsi sering dianggap oleh pelaku sebagai sesuatu yang tidak berasal dari dirinya (ego distonik). Stern dan Cobb (1978) menemukan bahwa 78% dari sampel individu kompulsif memandang ritual mereka sebagai “cukup bodoh atau aneh” walaupun mereka tidak mampu menghentikannya.
Jadi, gangguan obsesif kompulsi merupakan suatu gangguan anxietas di mana pikiran dipenuhi dengan pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan individu dipaksa untuk terus-menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan mengganggu keberfungsian sehari-hari.

Symptom :
Berdasarkan PPDGJ-III :
Gejala primer kecemasan harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut atau merupakan sumber distres atau gangguan aktivitas. Gejala-gejala tersebut meliputi :
1.Harus dikenal atau disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri individu sendiri.
2.Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
3.Pikiran untuk melaksanakan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan tidak dianggap sebagai kesenangan sepert dimaksud diatas).
4.Pikiran, bayangan atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan.

Etiologi
1. Teori Psikoanalisis
Dalam teori psikoanalisis,obsesi kompulsi dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada tahap anal. Simtom-simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil perjuangan antara id dan mekanisme pertahanan.
Alfred Adler memandang gangguan obsesif kompulsif sebagai akibat dari rasa tidak kompeten. Dia percaya bahwa ketika anak-anak tidak didorong untuk mengembangkan suatu perasaan kompeten oleh orang tua yang sangat memanjakan atau sangat dominan, mereka mengalami kompleks inferioritas dan secara tidak sadar dapat melakukan ritual kompulsif untuk menciptakan suatu wilayah dimana mereka dapat menggunakan kendali dan merasa terampil. Adler berpendapat bahwa tindakan kompulsif memungkinkan seseorang sangat terampil dalam suatu hal, bahkan jika suatu hal itu hanya berupa posisi menulis di meja.
2. Teori behavioral dan kognitif
Teori behavioural menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut (Meyer & Chesser,1970). Sebagai contoh, mencuci tangan secara kompulsif dipandang sebagai respon pelarian operant yang mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh kotoran dan kuman. Sejalan dengan itu, pengecekan secara kompulsif dapat mengurangi kecemasan terhadap bencana yang diantisipasi pasien jika ritual pengecekan tersebut tidak dilakukan.
Pemikiran lain mengenai pengecekan secara kompulsif adalah bahwa hal itu disebabkan oleh defisit memori. Ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan secara akurat (seperti mematikan kompor) atau membedakan antara perilaku aktual dan perilaku yang dibayangkan (“Mungkin saya hanya berpikir telah mematikan kompor”) dapat menyebabkan seseorang berulang kali melakukan pengecekan. Namun demikian, sebagian besar studi menemukan bahwa penderita OCD tidak menunjukkan defisit memori. Sebagai contoh, salah satu studi membandingkan pasien penderita OCD, gangguan panik, dan orang-orang normal pada tes mengenai informasi umum. Tidak ada perbedaan diantara ketiga kelompok dalam jumlah jawaban benar. Namun demikian, para pasien penderita OCD kurang yakin dengan jawaban mereka dibanding kelompok normal (Dar dkk.,2000). Dengan demikian, bila memori relevan dengan OCD, tampaknya hanya merupakan masalah keyakinan terhadap memori seseorang dan bukan memori itu sendiri.
Penjelasan kognitif mengenai OCD sama dengan penjelasan Adler. Dihipotesiskan bahwa OCD (sekurang-kurangnya perilaku kompulsif) didorong oleh kebutuhan yang tidak masuk akal untuk merasa kompeten, bahkan sempurna. Jika tidak demikian, orang yang bersangkutan merasa tidak berharga (McFall & Wollersheim, 1979). Teori kognitif yang lain menekankan pada asumsi-asumsi yang mendasari, misalnya keyakinan bahwa orang harus mampu mencegah bahaya bagi orang lain dan bahwa orang harus mampu mengendalikan pikiran-pikirannya (Salkovskis,1985)
3. Faktor Biologis
Encefalitis, cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan dengan terjadinya gangguan obsesif-kompulsif (Jenike,1986). Ketertarikan difokuskan pada dua area otak yang dapat terpengaruh oleh trauma semacam itu, yaitu lobus frontalis dan ganglia basalis, serangkaian nuklei sub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus pallidus, dan amygdala. Studi pemindaian dengan PET menunjukkan peningkatan aktivasi pada lobus frontalis pasien OCD, mungkin mencerminkan kekhawatiran mereka yang berlebihan terhadap pikiran mereka sendiri. Untuk memberikan bukti yang mendukung pentingnya dua bagian otak yang telah disebutkan sebelumnya, Rauch dkk.(1994) menstimulasi simtom-simtom OCD dengan memberikan stimuli yang dipilih secara khusus pada para pasien, seperti sarung tangan kotor oleh sampah atau pintu tidak terkunci. Aliran darah di otak meningkat pada daerah frontalis dan beberapa daaerah ganglia basalis. Para pasien penderita OCD juga ditemukan memiliki putamen yang lebih kecil dibanding kelompok kontrol. (Rosenberg dkk,1997).

Terapi Gangguan Obsesif-Kompulsif
Gangguan Obsesif kompulsif merupakah salah satu masalah psikologis yang paling sulit ditangani. Para pasien OCD jarang memperoleh kesembuhan. Walau berbagai macam intervensi dapat mengakibatkan perbaikan signifikan, kecenderungan obsesif kompulsif tetap ada hingga suatu titik tertentu, walaupun dalam kontrol yang lebih besar dan dengan penampakan yang lebih sedikit dalam gaya hidup pasien (White & Cole,1990). Berikut adalah beberapa jenis terapi yang digunakan :
1.Terapi Psikoanalisis
Terapi psikoanalisis untuk obsesif kompulsif mirip dengan fobia dan kecemasan menyeluruh, yaitu mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena pikiran yang menggangu dan perilaku kompulsif melindungi ego dari konflik yang ditekan, serta, keduanya merupakan target yang sulit untuk intervensi terapeutik, dan prosedur psikoanalisis serta psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan ini (Esman,1989). Salah satu pandangan psikoanalisis mengemukakan hipotesis bahwa keragu-raguan yang tampak pada sebagian besar penderita obsesif-kompulsif berasal dari kebutuhan terhadap kepastian benarnya suatu tindakan sebelum tindakan tersebut dilakukan (Salzman,1985). Dengan demikian, pasien harus belajar untuk mentoleransi ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang seiring mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti atau dapat dikendalikan secara mutlak dalam hidup ini. Fokus akhir dalam terapi tetap berupa insight atas berbagai penyebab simtom yang tidak disadari.
2.Pendekatan Behavioral: Pemaparan dan Pencegahan Ritual (ERP-Exposure and Ritual prevention)
Pendekatan behavioral yang paling banyak digunakan,dinilai cukup efektif bagi lebih dari separuh pasien penderita OCD dan diterima secara umum untuk ritual kompulsif, dalam metode ini (kadang disebut flooding) seseorang memaparkan dirinya pada situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif, kemudian menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasa dilakukannya. Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negatif karena mengurangi kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa dalam lingkungan. Mencegah seseorang melakukan ritual akan memaparkannya pada stimulus yang menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan terhapusnya kecemasan tersebut. Kadangkala pemaparan dan pencegahan ritual ini dilakukan melalui imajinasi, terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya, bila seseorang percaya bahwa ia akan sakit parah apabila tidak melakukan ritual tertentu.
3.Terapi Perilaku Rasional Emotif
Beberapa bukti mendukung efektivitas terapi perilaku rasional emotif untuk mengurangi OCD (a.l., Emmelkamp & Beens,1991). Pemikirannya adalah membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala tindakan yang mereka lakukan harus mutlak memberikan hasil sempurna. Terapi kognitif dari beck dapat bermanfaat (Van Oppen dkk.,1995). Dalam pendekatan ini, pasien didorong untuk menguji ketakutan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif. Jelaslah, bagian ini tidak terpisahkan dalam terapi kognitif semacam itu adalah pemaparan dan pencegahan respon (atau ritual), karena untuk mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan memberikan konsekuensi yang mengerikan, pasien harus menahan diri untuk tidak melakukan ritual tersebut
4.Penanganan Biologis
Obat-obatan yang menigkatkan level serotonin, seperti SSRI dan beberpa tricyclic, merupakan penangan biologis yang paling sering diberikan kepada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Kedua kelompok obat-obatan tersebut telah memberikan hasil yang menguntungkan, walaupun perlu dicatat bahwa suatu kajian terhadap penanganan farmakologis oleh dua psikiater merendahkan pentingnya ERP sebagai pendekatan baris pertama (Rauch&Jenike,1998) . Beberapa studi menunjukkan bahwa antidepresan trycilic kurang efektif dibandingkan ERP (balkom dkk.,1994), dan suatu studi terhadap antidepresan menunjukkan perbaikan ritual kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita depresi (Marks dkk.,1980). Dalam studi lain, manfaat antidepresan trycilic bagi OCD ternyata hanya berjangka pendek;penghentian obat ini memicu 90 persen tingkat kekambuhan, jauh lebih tinggi daripada pencegahan respon (pato dkk.,1988). Diatas segalanya gambaran mengenai efektivitas antidepresan trycilic tidak pasti. Penelitian menunjukkan bahwa penghambat pengembalian serotonin, seperti fluoxetin (Prozac), menghasilkan perbaikan lebih besar bagi pasiien OCD dibanding placebo atau trycilic (Kronig dkk.,1999). Tetapi ternyata simtom-simtom akan terjadi kembali jika pemakaian dihentikan.

Peningkatan teknologi dalam pengukuran berbagai aspek aktivitas otak mendorong para peneliti untuk mencari perubahan otak yang disebabkan oleh intervensi terapeutik. Salah satu studi yang pantas dicatat membandingkan fluoxetine (Prozac) dengan pemaparan nyata plus pencegahan reapon dan menemukan bahwa perbaikan kondisi OCD yang dihasilkan oleh kedua terapu tersebut diasosiasikan dengan perubahan yang sama dalam fungsi otak, yaitu,berkurangnya aktivitas metabolik dalam caudata nucleus kanan, dimana aktivitas yang berlebihan dikaitkan dengan OCD (Baxter dkk.,1992). Hanya pasien yang secara klinis mengalami perbaikan kondisi menunjukkan perubahan aktivitas otak tersebut sebagaimana terukur oleh pemindaian PET. Penemuan semacam itu menunjukkan bahwa berbagai terapi yang benar-benar berbeda dapat berhasil karena alasan yang sama, karena berbagai terapi tersebut menggunakan cara yang berbeda untuk mempengaruhi faktor-faktor yang sama pada otak.

4 komentar:

Andri Journal mengatakan...

Baca postingan ini lumayan buat refreshing pelajaran ilmu kedokteran jiwa. Dah banyak yang lupa. Maklum, dah juarang banget baca buku. :p

Lain kali kamu nulis cerpen aja. Bisa kan?

FelinoPhobia mengatakan...

@mas andri:
oya...hampir sama kan ya pelajaran ilmu kedokteran jiwa ma psikologi??? hehehe...

nggak ah...nulis cerpen perlu berpikir keras.dulu aku dah pernah nulis cerpen kan,tapi pengalaman pribadi...di 'cinta monyet'... :D

kamu aja deh yang nulis cerpen...aku numpang baca... :p

anto mengatakan...

saya mau share dikit

saya penderita ocd, khususnya kalo membaca selalu diulang2..

awal mulanya karena pekerjaan saya di bank membutuhkan ketelitian yg tinggi, akhirnya kebablasan.

saya sempet ke psikiater, katanya saya panic disorder, jadi karena panik sehingga menyebabkan ocd .

saya dikasih obat anti depresi sama psikiaternya, tp tetep aja gak berkurang ocdnya.

tp saya yakin harus bisa sembuh, tanpa harus berobat ke psikolog/psikiater. krn biaya yg relatif mahal. memang yg bs menentukan sembuh enggaknya emang pikiran kita itu, kita harus punya keyakinan yg kuat kalo apa yg kita kerjakan memang sudah benar tanpa harus di cek berulang2. saya juga masih dalam tahap pengobatan secara pribadi. berat memang, tapi saya yakin hidup kita gak berakhir hanya karena kita kena ocd, nanti suatu saat kalo kita punya kesibukan dan gak mikirin kalo kita menderita ocd pasti lama2 hilang sendiri. mudah2an.

FelinoPhobia mengatakan...

@anto: memang membutuhkan ksabaran utk dpt mengurangi perilaku ocd...dan sbenarx memang tidak hrus dtg ke psikolog/psikiater apabila anda sdh dpt mengatasi perilaku dan tmpak tidak menganggu keseharian anda...terapi dari diri sndri memungkinkan memang bs mjadi lbh efektif krn didasari akan keinginan utk sembuh...bisa dg meyakinkan pd diri anda trlbih dahulu,bahwa apa yg anda krjakan sdh benar dan sesuai dan melatih diri utk dpt menerima konsekuensi dri tindakan yg tlah anda krjakan...

69%

This quiz was provided by Match Special
Free Online Dating

Artikel Top

Widget edited by Anang

Pengunjung

Kunjungi Juga

Top Comment

Widget by Mxyzplk Distributed by Blogging - SEO Tricks

Personality

Click to view my Personality Profile page

Jejakmu


ShoutMix chat widget

IP Adress

IP

Page Rank

powered by PRBbutton

YM yuk...